4 Pengertian Akuntansi Syariah Menurut Para Ahli

4 Pengertian Akuntansi Syariah Menurut Para Ahli

Posted on

4 Pengertian Akuntansi Syariah Menurut Para Ahli – Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang Akuntansi Syariah, Apa itu Akuntansi Syariah? Bicara tentang pengertian Akuntansi Syariah, mari kita kupas satu persatu pengertian dari Akuntansi dan syariah, silahkan simak ulasannya berikut ini:

4 Pengertian Akuntansi Syariah Menurut Para Ahli

a. Akuntansi merupakan Proses dari Identifikasi transaksi, pencatatan, penggolongan, pengikhtisaran, sehingga dihasilkan suatu informasi keuangan dalam bentuk laporan keuangan yang bisa digunakan untuk pengambilan keputusan.

b. Syariah merupakan Aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT untuk dipatuhi semua manusia dalam menjalani segala aktivitasnya di dunia.

Jadi Akuntansi Syariah merupakan Akuntansi yang sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Selain dari pengertian secara umumnya kami juga akan memberikan beberapa pendapat ahli tentang Akuntansi Syariah, yaitu sebagai berikut:

1. Prof. Dr. Omar Abdullah Zaid dalam bukunya yang berjudul Akuntansi Syariah, pada halaman 57 mendefinisikan akuntansi sebagai berikut :

”Muhasabah yakni suatu aktifitas yang teratur yang berkaitan dengan pencatatan transaksi-transaksi, tindakan-tindakan, keputusan-keputusan yang sesuai dengan syari’at dan jumlah-jumlahnya, di muat dalam catatan-catatan yang representatif, dan berkaitan dengan pengukuran dengan hasil-hasil keuangan yang berimplikasi pada transaksi-transaksi, tindakan-tindakan, dan keputusan-keputusan tersebut untuk membentuk pengambilan keputusan yang tepat. Dengan definisi ini kita bisa membatasi karakteristik muhasabah dalam poin-poin berikut ini:

a. Aktifitas yang teratur.
b. Pencatatan yang mencakup transaksi, tindakan, dan keputusan yang sesuai hukum, jumlah-jumlahnya, dan di dalam catatan-catatan yang representatif
c. Pengukuran hasil-hasil keuangan.
d. Membantu pengambilan keputusan yang tepat.

2. Sofyan S. Harahap dalam buku Akuntansi Social ekonomi dan Akuntansi Islam hal 56, mendefinisikan Akuntansi Islam atau Akuntansi syariah pada hakekatnya adalah penggunaan akuntansi dalam menjalankan syariah Islam. Akuntansi syariah terbagi dalam dua versi: pertama, akuntansi syariah yang secara nyata telah diterapkan pada era dimana masyarakat menggunakan sistem nilai Islami khususnya pada era Nabi Muhammad SAW, Khulaurrasyidiin, dan pemerintah Islam lainnya dan Kedua Akuntansi syariah yang saat ini muncul dalam era dimana kegiatan ekonomi dan sosial dikuasai atau dihegemony oleh sistem nilai kapitalis yang berbeda dari sistem nilai Islam. Kedua jenis akuntansi itu bisa berbeda dalam merespon situasi dalam masyarakat yang ada pada masanya. Tentu akuntansi merupkan produk masanya yang harus mengikuti kebutuhan masyarakat akan informasi yang disuplainya.

3. Toshikabu Hayashi dalam tesisnya yang berjudul “On Islamic Accounting” menerangkan bahwa Akuntansi Barat atau Konvensional memiliki sifat yang dibuat sendiri oleh kaum kapital dengan berpedoman pada filsafat kapitalisme, sedangkan dalam Akuntansi Islam terdapat “meta rule” yang berasal diluar konsep akuntansi yang harus dipatuhi, yakni hukum Syariah yang berasal dari Tuhan yang bukan ciptaan manusia, dan Akuntansi Islam sesuai dengan kecenderungan manusia yakni “hanief” yang menuntut agar perusahaan juga memiliki etika serta tanggung jawab sosial, bahkan ada pertanggung jawaban di akhirat, dimana setiap orang akan mempertanggung jawabkan tindakannya di hadapan Tuhan yang memiliki Akuntan sendiri yakni malaikat Rakib dan Atid yang mencatat semua tindakan manusia bukan saja hanya pada bidang ekonomi, tetapi juga dalam masalah sosial dan pelaksanaan hukum Syariah lainnya.

4. Menurut Muhammad (2002:11), dalam Al Qur’an surah Al Baqarah ayat 282 ada tiga nilai yang menjadi prinsip dasar dalam operasional akuntansi syari’ah yaitu:

a. Prinsip pertanggung jawaban

Dalam kebudayaan kita pada umumnya “tanggung jawab” diartikan sebagai keharusan untuk “menanggung” dan “menjawab” dan dalam pengertian lain yakni suatu keharusan untuk menanggung akibat yang ditimbulkan oleh perilaku seseorang dalam rangka menjawab suatu persoalan. Pertanggung jawaban berkaitan langsung dengan konsep amanah. Dimana implikasinya dalam bisnis dan akuntansi ialah bahwa setiap individu yang terlibat dalam praktik bisnis harus selalu melakukan pertanggung jawaban apa yang telah diamanatkan dan diperbuat kepada pihak-pihak yang terkait. Pertanggung jawabannya diwujudkan dalam bentuk laporan keuangan.

b. Prinsip keadilan

Keadilan merupakan pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak – hak dan kewajiban. Keadilan terletak pada keharmonisan menuntut hak dan dalam menjalankan kewajiban. Dengan kata lain, keadilan merupakan keadaan bila setiap orang memperoleh apa yang menjadi hak nya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan bersama. Prinsip keadilan ini tidak saja merupakan sebuah nilai yang sangat penting dalam etika kehidupan sosial dan bisnis, tetapi juga merupakan nilai yang secara inheren melekat dalam fitrah manusia. Dalam konteks akuntansi, keadilan mengandung pengertian yang bersifat fundamental dan tetap berpijak pada nilai-nilai etika atau syariah dan moral, sederhananya adil dalam akuntansi merupakan pencatatan dengan benar setiap transaksi yang dilakukan oleh perusahaan.

Dalam Al Quran disampaikan bahwa kita harus mengukur semuanya dengan adil, jangan dilebihkan dan jangan pula dikurangi. Kita tidak boleh untuk menuntut keadilan ukuran dan timbangan bagi kita, dan mengurangi milik orang lain. Al Quran menyatakan hal ini dalam berbagai ayat, antara lain dalam surah Asy-Syura ayat 181-184 yang berbunyi “Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu.”

c. Prinsip kebenaran

Dalam kamus umum Bahasa Indonesia oleh Purwadarminta, ditemukan arti kebenaran, yakni:
1. Keadaan yang benar atau cocok dengan hal atau keadaan sesungguhnya
2. Sesuatu yang benar sungguh-sungguh ada, betul demikian halnya
3. Kejujuran, ketulusan hati
4. Selalu izin, perkenanan
5. Jalan kebetulan

Itulah sekilas penjelasan tentang 4 Pengertian Akuntansi Syariah Menurut Para Ahli, terima kasih telah menyempatkan membaca, semoga artikel yang anda baca bermanfaat, jangan sungkan untuk mengirimkan kritik maupun saran kepada redaksi kami.

Baca Juga >>>

3 Jenis Aktiva (Assets) Beserta Contoh dan Pengertian Lengkap
Cara Membuat Laporan Keuangan Lengkap
10 Contoh Bukti Transaksi Dan Pengertian Transaksi Terlengkap