2 Teknik Pewarnaan Bakteri

2 Teknik Pewarnaan Bakteri

Posted on

2 Teknik Pewarnaan Bakteri – Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang teknik pewarnaan pada bakteri. Adapun fungsi dari teknik pewarnaan ialah untuk mengetahui jenis dari bakteri, untuk lebih jelasnya mari kita simak ulasannya berikut ini :

2 Teknik Pewarnaan Bakteri

Bakteri memiliki beberapa bentuk yaitu: basil atau tongkat, coccus, spirilum. Bakteri yang berbentuk tongkat dan kokus dibagi menjadi beberapa macam. Bakteri bentuk basil dibagi menjadi basil tunggal, diplobasil, dan tripobasil. Dan pada bakteri bentuk coccus dibagi menjadi monococcus, diplococcus, sampai stophylococcus. Khusus pada bakteri bentuk spirilum hanya dibagi menjadi dua yaitu setengah melengkung dan melengkung (Dwidjoseputro.1998).

Untuk melihat dan mengamati bakteri dalam kedaan hidup, itu sangat sulit, itu karena selain bakteri tidak berwarna, bakteri juga transparan dan berukuran sangat kecil. Untuk mengatasi hal tersebut maka dikembangkan suatu teknik pewarnaan sel bakteri, ini merupakan salah satu cara yang paling utama dalam penelitian-penelitian mikrobiologi (Dwidjoseputro.1998)

Prinsip dasar dalam pewarnaan ini ialah dengan adanya ikatan ion antara komponen seluler dari bakteri dengan senyawa aktif dari pewarnaan yang disebut kromogen. Terjadinya ikatan ion ini karena adanya muatan listrik baik pada komponen seluler maupun pada pewarnaan. Berdasar dari adanya muatan ini, maka perwarnaan dapat dibedakan menjadi pewarna asam dan pewarna basa.

Dalam teknik Pewarnaan bukan merupakan pekerjaan yang sulit akan tetapi perlu ketelitian dan kecermatan bekerja serta mengikuti aturan dasar yang berlaku (Lay.1994)

1. Pewarnaan sederhana

Teknik pewarnaan ini merupakan teknik pewarnaan yang paling banyak digunakan. Dinamakan sederhana karena hanya menggunakan satu jenis zat warna untuk mewarnai organisme tersebut. Mayoritas bakteri mudah bereaksi dengan pewarnaan – pewarnaan sederhana karena sitoplasamanya bersifat basofilik atau suka dengan basa. Zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana biasanya bersifat alkolin. Dengan pewarnaan sederhana maka kita dapat mengetahui bentuk dan rangkaian sel-sel bakteri. Pewarna basa yang umunya digunakan untuk pewarnaan sederhana adalah metilen biru, kristal violet, dan karbol fuehsin. Dalam pewarnaan sederhana ini dibagi menjadi dua jenis pewarnaan:

loading...

a. Pewarnaan asam

Pewarnaan asam ialah pewarnaan yang menggunakan satu macam zat warna dengan tujuan hanya untuk melihat bentuk sel. Zat warna yang digunakan dalam pewarnaan positif adalah metilen biru dan air furksin.

b. Pewarnaan Basa

Teknik ini merupakan metode pewarnaan untuk mewarnai bakteri namun mewarnai latar belakangnya menjadi hitam gelap. Pada pewarnaan ini mikroorganisme akan terlihat transparan atau tembus pandang. Teknik ini bermanfaat untuk menentukan morfologi dan ukuran sel. Metode pewarnaan basa menggunakan cat nigrosin atau tinta cina.

2. Pewarnaan Diferensial atau Gram

Pewarnaan diferensial atau metode Gram merupakan suatu metode empiris untuk membedakan spesies bakteri menjadi dua kelompok besar, yaitu gram positif dan gram negatif, yang berdasarkan sifat kimia dan fisik dinding sel mereka. Metode ini diberi nama yang diambil dari nama penemunya, Hans Christian Gram (1853–1938) yang merupakan ilmuwan Denmark, Gram mengembangkan teknik ini pada tahun 1884 untuk membedakan antara pneumokokus dan bakteri Klebsiella pneumoniae. Bakteri Gram-negatif ialah bakteri yang tidak mempertahankan zat warna metil ungu pada metode pewarnaan Gram. Bakteri gram positif ini akan mempertahankan zat warna metil ungu gelap setelah ia dicuci dengan alkohol, sementara pada bakteri gram negatif tidak. Dalam uji pewarnaan Gram, suatu pewarna penimbal atau counterstain ditambahkan setelah metil ungu, yang akan membuat semua bakteri gram negatif menjadi berwarna merah atau merah muda. Pengujian ini memiliki guna untuk mengklasifikasikan kedua tipe bakteri ini berdasarkan perbedaan struktur dinding sel mereka.

a. Bakteri Gram Negatif

Yang termasuk bakteri gram negative ialah bakteri yang tidak dapat mempertahankan zat warna metil ungu pada metode pewarnaan Gram. Bakteri yang termasuk dalam gram positif akan mempertahankan warna ungu gelap setelah dicuci dengan alcohol, namun pada bakteri gram negative tidak.

b. Bakteri Gram Positif

Tang termasuk bakteri gram positif ialah bakteri yang dapat mempertahankan zat warna metil ungu sewaktu proses pewarnaan Gram. Bakteri yang termasul dalam gram positif akan berwarna biru atau ungu di bawah mikroskop, dan pada bakteri gram negative akan berwarna merah muda. Perbedaan klasifikasi antara kedua jenis bakteri ini utamanya didasarkan pada perbedaan struktur dinding sel bakteri (Aditya,2010)

Bakteri dengan gram negatif memiliki 3 lapisan dinding sel: Lapisan terluar yaitu lipoposakarida atau lipid yang kemungkinan akan tercuci oleh alkohol, sehingga saat diwarnai dengan safranin akan berwarna merah. Bakteri gram positif mempunyai selapis dinding sel berupa peptidoglikan yang tebal. Setelah pewarnaan dengan menggunakan kristal violet, pori-pori dinding sel akan menyempit karena dekolorisasi oleh alkohol sehingga dinding sel tetap menahan warna biru (Fitria, 2009).

Sel bakteri dengan gram positif mungkin akan tampak merah jika pada saat dekolorisasi terlalu lama. Dan pada bakteri gram negatif akan tampak ungu jika pada saat dekolorisasi terlalu pendek (Fitria, 2009).

Perbedaan relatif sifat bakteri gram positif dan gram negatif.

Sifat Bakteri gram positif

  • Komposisi dinding sel Kandungan lipid rendah (1-4%)
  • Ketahanan terhadap penisilin Lebih sensitif
  • Penghambatan oleh pewarna basa (VK) Lebih dihambat
  • Kebutuhan nutrisi Kebanyakan spesies relatif kompleks
  • Ketahanaa terhadap perlakuan fisik Lebih tahan

Bakteri gram negatif

  • Komposisi dinding sel kandungan lipid tinggi
  • Ketahanan terhadap penisilin ebih tahan
  • Penghambatan oleh pewarna basa kurang dihambat
  • Kebutuhan nutrisi relatif sederhana
  • Ketahanan terhadap perlakuan fisik Kurang tahan

Pewarnaan tahan asam yang biasa digunakan ialah dengan pewarnaan Zieh–Neelson dengan pewarna utama karbol fuksin dengan pemanasan dan pewarna tandingan metilen blue Loeffler. Perlakuan panas tersebut diganti dengan penggunaan pembasah yakni dengan penggunaan suatu deterjen untuk mengurangi tegangan permukaan lemak, guna menjamin penetrasi. Pewarna yang mengandung pembasah ini disebut dengan pewarna Kinyoun (Purwoko, 2010).

Sekali sitoplasma itu terwarnai, maka sel-sel organisme akan seperti mikobakteri yang akan menahan zat warna tersebut dengan erat, itu berarti tidak terpucatkan sekalipun oleh zat yang bersifat keras seperti asam alkohol (yakni 3% HCL dalam etanol 95%). Alkohol asam ini ialah pemucat yang sangat intensif dan jangan dikelirukan dengan alkohol – aseton yang banyak digunakan dalam prosedur pewarnaan Gram. Kondisi bakteri dalam pewarnaan ini, organisme yang dapat menahan zat warna itu dikatakan tahan asam dan akan tampak merah. Bakteri biasa yang dindingnya tidak bersifat terlampau lipoidal, pewarna karbol fuksin yang mewarnai sel dapat dengan mudah dipucatkan oleh alkohol-asam dan itu sebabnya dikatakan tak tahan asam. Tercucinya karbol fuksin dapat dilihat oleh terserapnya pewarna tandingan biru metilen oleh sel, sehingga bakteri akan tampak biru (Hadioetomo, 1993).

Itulah ulasan sekilas penjelasan tentang 2 Teknik pewarnaan bakteri, terima kasih telah menyempatkan membaca, semoga artikel yang anda baca bermanfaat, jangan sungkan untuk mengirimkan kritik maupun saran kepada redaksi kami

Baca Juga >>>


loading...